Senin, 14 November 2016

Pelestarian Hutan Flora

1. Pelestarian Flora
Pelestarian flora dititik-beratkan pada pelestarian hutan karena hutan lebih berkaitan pada kehidupan makhluk hidup di bumi ini. Ingat saja hutan dapat menghasilkan sumber air, hutan dapat menghasilkan O2 (gas asam oksigen) yang penting untuk pernapasan makhluk hidup (paru-paru dunia), hutan merupakan sumber penghasilan manusia, dan sebagainya.

a. Pelestarian Hutan di Indonesia

Menurut Sumadi Sutrijat yang dimaksud hutan adalah bentang darat yang tertutup pohon-pohonan yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati dan lingkungannya.
 
Pelestarian Flora, Cagar Alam, Suaka Marga Satwa  Pelestarian Flora, Cagar Alam, Suaka Marga Satwa dan Lembaga Biologi www
Usaha-usaha dalam pelestarian hutan di Indonesia antara lain sebagai berikut.
1) Dibentuk polisi khusus (polsus) kehutanan untuk menjaga kelestarian hutan agar hutan tidak dicuri kayunya. Oleh karena itu, polsus di Kalimantan Tengah sudah mulai dipersenjatai.

2) Penerangan-penerangan lewat media cetak dan media elektro nika tentang pentingnya hutan.
3) Upaya merumahkan orang-orang perambah hutan agar tidak lagi merusak hutan. 
Pembangunan masyarakat sekitar hutan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya dengan cara dibantu mendirikan koperasi peternakan, pendidikan, dan sekolah (bina sosial).
 
4) Peningkatan sistem tebang pilih dengan sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI). 
Ini berarti para pengusaha kehutanan yang memegang HPH (Hak Pengusaha Hutan) tidak hanya memilih batang kayu yang besar-besar saja (minimal berdiameter 30 cm), tetapi berkewajiban membuat persemaian dan pembibitan untuk mereboisasi hutan yang sudah ditebangi. 
 
Selain itu penebangan tidak boleh dihabiskan, meskipun pohon-pohonnya sudah lebih besar dari ketentuan 30 cm. Pelestarian hutan di Indonesia sangat mutlak perlu, mengingat luas hutan kita tinggal 143 juta ha, yang terdiri atas hutan lindung 30 juta ha, cagar alam 19 juta ha, hutan produksi 64 juta ha (hutan yang boleh ditebang), dan hutan konversi 30 juta ha (hutan cadangan). Perlu diketahui pula bahwa laju tingkat kerusakan hutan sudah sangat memprihatinkan.
 
Tabel Luas Hutan Indonesia Tahun 2004
Provinsi
Luas (ha)
Sumatera
367,7 ribu
Kalimantan
610,9 ribu
Sulawesi
117,5 ribu
Maluku
24,3 ribu
Papua
163,7 ribu
Nusa Tenggara
14,5 ribu
Jawa 16,1 ribu
16,1 ribu

b. Pelestarian Hutan Tingkat Dunia

Usaha-usaha dalam melestarikan hutan di tingkat dunia antara lain sebagai berikut.
 
1) Dalam rangka studi hutan, Sulawesi dan Kalimantan ditetapkan sebagai Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (Centre for International Forestry Research = CIFOR).
 
2) KTT – Bumi di Rio de Janeiro (tanggal 3 Juni 1992) disebut United Nations Conference of Environment Development, membahas pentingnya lingkungan hidup, khususnya hutan dan pengaruhnya terhadap lapisan ozon (O3). Dalam konferensi ini dihadiri oleh 178 anggota PBB, termasuk Indonesia. Indonesia mengusulkan agar negara-negara maju mau menyumbang sebesar 0,7% GNP negaranya untuk memperbaiki lingkungan hidup terutama hutan.
 
Menurut Sumadi Sutrijat hutan di Indonesia cenderung terjadi penciutan disebabkan penebangan kayu liar, bencana alam, konfersi lahan pertanian, dan berkembangnya proyek pembangunan.

Luas Cagar Alam dan Suaka Margasatwa di Indonesia Tahun 2004

Pulau
Jumlah
Luasnya (ha)
Jawa
68
176.872
Sumatera
27
1.313.057
Kalimantan
7
642.283
Sulawesi  
7
6.350
Bali
3
76.592
Nusa Tenggara
4
Maluku
1
Papua
1
2. Persebaran Lokasi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa di Indonesia Serta Jenis-jenis Satwanya
Cagar Alam dan Jenis Flora Indonesia
 
Cagar Alam
 
Jenis Flora
 
Sibolangit
(Sumatera Utara
 
Flora asli dataran rendah Sumatera Timur, ) antara lain pohon lebah dan bunga bangkai
raksasa
 
Rimbo Panti (Sumatera Barat)
Flora asli Sumatera Barat (antara lain pohon kamfer dan kemenyan)
 
Bengkulu
 
Bunga Rafflesia (Rafflesia Arnoldi) jenis
bunga terbesar di dunia
Pulau Dua (Jawa Barat)
 
Berupa hutan, terkenal sebagai kerajaan
burung
Cibodas di kaki Gunung Gede (Jawa Barat)
Hutan cadangan, wisata alam
 
 
Suaka Margasatwa
 
Jenis Flora
 
Penanjung, Pantai Pangandaran (Jawa Barat)
Hutan pantai
Lalijiwo di Lereng G. Arjuna (Malang)
Hutan alpina dan berjenis-jenis cemara
Florence (Papua)
 
Flora asli Papua: Rasamala, Eucalyptus
(minyak kayu putih)
Suaka Margasatwa dan Jenis Satwa Indonesia
Suaka Margasatwa
Jenis Satwa
 
Gunung Leuser,
margasatwa terbesar di Indonesia (Aceh)
Gajah, badak Sumatera, suaka harimau doreng, rusa, kambing hutan, orang utan, tapir dan berbagai jenis burung
 
Sumatera Selatan
 
Gajah, badak, kerbau liar, tapir, harimau doreng (harimau Sumatera), dan rusa
Kutai
(Kalimantan Timur)
Rusa, babi hutan, orang utan, dan kanau atau bakantan (kera berhidung panjang)
Baluran (Banyuwangi)
 
Badak, banteng, kerbau liar, rusa, babi hutan, lutung, dan ayam hutan
Pulau Mojo (Sumbawa-NTT)
Babi hutan, rusa, sapi liar, burung kakaktua, dan ayam hutan
 
Pulau Komodo (Flores Barat – NTT)
 
Komodo, rusa, babi hutan, kerbau liar, ayam hutan dan burung kakaktua. Menurut penelitian Nicole (sarjana wanita Jerman) habitat komodo di situ ada 3000 ekor
 
P. Panaitan (Ujungkulon)
 
Ular Sanca (bantuan dari Kebun Binatang London) 30 ekor ditambahkan di pulau itu
P. Kaget di tengah-tengah Sungai Barito
Bakantan dan kera berhidung mancung
 
3. Lembaga Biologi
Untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, Indonesia memiliki lembaga-lembaga biologi seperti berikut.
 
a. Kebun Raya Bogor dengan cabang-cabangnya di Cibodas (Jawa Barat), Purwodadi (Jateng), Lawang (Jatim), Eka Karya (Bali), dan Sibolangit (Sumatera Utara). Di dalam Kebun Raya Bogor tumbuh semua jenis tanaman tropis sebanyak ± 16.000 pohon, meliputi ± 6.000 spesies.
b. Herbarium Bogoriense dengan koleksi ± 1 juta set.
c. Museum Zoologicum Bogoriense menyimpan ± 600.000 ekor binatang (dalam bentuk diawetkan).
d. Lembaga Penelitian Botani Bogor.
e. Lembaga Penelitian Laut di Jakarta.
Demikianlah materi Pelestarian Flora, Cagar Alam, Suaka Marga Satwa dan Lembaga Biologi,

Pelestarian Hutan Lindung

Hasil gambar untuk melestarikan hutan lindung margasatwa dll



A. Pengertian Hutan lindung
Pengertian hutan lindung menurut pasal 1 angka (7) UU Nomor 41 Tahun 1999 jo UU Nomor 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan, yakni kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah.

B. Kegunaan hutan lindung
Hutan lindung bisa dimanfaatkan, namun hanya untuk hal-hak tertentu, seperti dimuat dalam pasal 26 ayat (1) UU Nomor 41 Tahun 1999 jo UU 19 Tahun 2004, dan pasal 23 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007. Intinya bahwa pemanfaatan hutan lindung dapat berupa pemafaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan,d an pemungutan hasil hutan bukan kayu.
• Secara prosedur, permohonan alih fungsi hutan lindung mengacu pada pasal 19 yakni:
Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan ditetapkan oleh pemerintah dengan didasarkan pada hasil penelitian terpadu.
• Perubahan peruntukan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai sangat strategis, ditetapkan oleh pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
• Ketentuan tentang tata cara perubahan peruntukan kawasan hutan dan perubahan fungsi kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan pemerintah.
Manfaat Hutan:
1. Manfaat Ekonomi
Hutan menghasilkan beberapa produk. Kayu gelondongan dapat diolah menjadi kayu, kayu lapis, bantalan kereta api, papan, kertas. Rotan dapat digunakan untuk furniture. Hutan dapat juga menghasilkan minyak dan berbagai produk lainnya, latex dapat digunakan untuk membuat karet, terpentin, berbagai jenis lemak, getah, minyak, dan lilin. Bagi masyarakat pedalaman binatang dan tanaman hutan menjadi sumber makanan pokok mereka.
Tidak seperti sumber alam lainnya misal batubara, minyak, dan tambang mineral, sumber alam yang berasal dari hutan dapat tumbuh kembali, sejauh manusia dapat memperhitungkan pengelolaannya.
2. Manfaat lingkungan
Hutan membantu konservasi dan memperbaiki lingkungan hidup dalam berbagai bentuk. Misalnya hutan membantu menahan air hujan, sehingga mencegah tanah longsor dan banjir, air hujan diserap menjadi air tanah yang muncul menjadi mata air bersih yang mengalir membentuk sungai, danau, dan untuk air sumur.
Tumbuhan hijau membantu memperbaiki lapisan atmosfir menghasilkan oksigen yang sangat diperlukan oleh mahkluk hidup dan mengambil karbon dioksida dari udara. Jika tumbuhan hijau tidak menghasilkan oksigen lagi, maka hampir semua kehidupan akan berhenti. Jika karbon dioksida bertambah banyak di atmosfer hal ini dapat merubah iklim di bumi secara drastis.
Hutan menjadi tempat tinggal beberapa jenis tanaman dan binatang tertentu yang tidak bisa hidup di tempat lainnya. Tanpa hutan berbagai tumbuhan dan hewan langka akan musnah.
3. Manfaat hiburan
Keindahan alam dan kedamaian di dalam hutan dapat menjadi hiburan yang sangat luar biasa dan langka. Mengamati burung atau hewan langka menjadi kegiatan yang sangat menarik. Beberapa hutan dapat dimanfaatkan untuk berkemah, hiking dan berburu. Banyak juga yang hanya menikmati suasana dan bersantai di keheningan yang menyertai keindahan alam.

C. Peranan masyarakat dalam melestarikan hutan lindung

Partisipasi Masyarakat terhadap Pengelolaan Hutan Lindung

a. Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan
Dalam kegiatan perencanaan pengelolaan hutan lindung, partisipasi masyarakat dapat ditunjukan dengan beberapa aspek seperti keterlibatan dalam kegiatansurvey lapangan, pemberian informasi dan mengajukan usul/saran.

b. Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan

Dalam kegiatan pelaksanaan pengelolaan hutan lindung, partisipasi masyarakatdapat ditunjukan dengan beberapa aspek seperti pemberian sumbangan pikiran, tenagadan materi

c. Partisipasi Masyarakat dalam Penerimaan Manfaat
Dalam kegiatan penerimaan manfaat dari pengelolaan hutan lindung, partisipasimasyarakat dapat ditunjukan dengan beberapa aspek seperti peningkatan pendapatan,pengertian manfaat hutan terhadap lingkungannya dan ketergantungan hidupnya terhadaphutan.
.
d. Partisipasi Masyarakat dalam Monitoring dan Evaluasi

Dalam kegiatan monitoring dan evaluasi pengelolaan hutan lindung, partisipasimasyarakat dapat ditunjukan dengan beberapa aspek seperti memonitor hutan lindung,mengawasi dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan pada hutan lindung.

e. Klasifikasi Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan Lindung

Mengacu pada pernyataan Cohen dan Uphoff dalam Manule (2002), bahwa tingkatpartisipasi tinggi apabila responden terlibat dalam keempat proses kegiatan yaituperencanaan, pelaksanaan, penerimaan manfaat dan monitoring & evaluasi.

1. Tingkat partisipasi sedang apabila responden hanya terlibat dalam prosespelaksanaan, penerimaan manfaat dan monitoring & evaluasi
2.Tingkat partisipasi rendah apabila responden hanya terlibat dalam proses penerimaanmanfaat dan monitoring & evaluasi

D. Tata cara melestarikan hutan lindung
Kerusakan lingkungan hidup bila tidak segera diatasi, suatu saat akan menimbulkan malapetaka besar bagi manusia. Dewasa ini berbagai organisasi lingkungan hidup baik yang berskala internasional, nasional, dan daerah, tidak henti-hentinya menyuarakan penyelamatan lingkungan hidup untuk keselamatan manusia di masa kini maupun di masa akan datang. Di samping organisasi lingkungan hidup, pemerintah di masing-masing negara pun telah banyak melakukan berbagai usaha untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup, termasuk di antaranya Indonesia.
Beberapa usaha yang dilakukan untuk pelestarian lingkungan hidup, antara lain sebagai berikut
Bidang kehutanan
Usaha yang dilakukan di bidang kehutanan adalah:
1) melakukan reboisasi (penanaman hutan kembali) pada kawasan-kawasan yang hutannya telah gundul;
2) penebangan pohon dan penanaman kembali agar dilakukan dengan seimbang sehingga hutan tetap lestari;
3) memperketat pengawasan terhadap penebangan-penebangan liar dan memberikan hukuman yang berat kepada pelanggar;
4) memperluas hutan lindung, taman nasional, dan sejenisnya sehingga fungsi hutan sebagai pengatur air, pencegah erosi, pengawetan tanah, tempat perlindungan flora dan fauna dapat tetap terpelihara dan lestari;
5) membuat undang-undang atau peraturan pemerintah tentang perlindungan dan pemeliharaan hutan serta menegakkannya secara konsisten .

E. Factor pendorong adanya hutan lindung
Faktor-faktor Pendorong Usaha Pengembangan Kehutanan di Indonesia
Beberapa faktor yang mendukung usaha pengembanagan kehutanan di Indonesia
a. Wilayah Indonesia berada di daerah beriklim tropis dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun, sehingga Indonesia tidak pernah mengalami musim gugur seperti negara-negara beriklim subtropis dan sedang.
b. Keadaan tanah di Indonesia sangat subur sehingga sangat baik bagi tumbuhnya berbagai jenis pohon dan tumbuh-tumbuhan lainnya.
c. Tersedianya sumber daya hutan berpotensi dan belum termanfaatkan, yang secara geografis tersebar luas di sebagian besar wilayah Indonesia.
d. Adanaya permintaan pasar terhadap hasil hutan indonesia, baik pasar dalam maupun luar negeri yang cenderung meningkat.

5. Faktor-Faktor Penghambat Usaha Pengembangan Kehutanan di Indonesia dan Cara Mengatasinya
Berbagai kendala yang dihadapi dalam pengembangan bidang kehutanan sebagai berikut.
a. Berkurangnya areal hutan karena pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggi. Hutan ditebang dan dijadikan kawasan permukiman penduduk, pertanian, dan perkebunan.
b. Masih terdapat sistem pertanian ladang berpindah, terutama diluar Jawa.
c. Terjadinya kebakaran hutan yang disebabkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
d. Terjadinya penebangan liar dan pencurian kayu di hutan yang dapat merusak hutan dan keanekaragaman hayati.
e. Usaha reboisasi dan penghijauan yang gagal dan kuurang berhasil karena kekurangan dana serta adanya gangguan alam, seperti musim kemarau yang panjang.
f. Pengambilan hasil hutan yang tidak mengikuti aturan yang telah ditetapkan pemerintah oleh pengusaha swasta pemegang HPH (Hak Pengusahaan Hutan).
g. Pengambilan kayu yang terus meningkat akibat kebutuhan kayu untuk pemukiman dan bahan baku industri.
Untuk mengatasi faktor-faktor penghambat dalam usaha pengembangan kehutanan di Indonesia sebagai berikut.
a. Menggunakan sumber daya hutan sebaik-baiknya untuk peningkatan volume dan nilai ekspor, merangsang pertumbuhan industri hilir pengolahan hasil-hasil hutan serta mempertahankan kelestarian sumber daya hutan.
b. Melakukan eksploitasi hasil hutan, terutama kayu, secara hati-hati. Perusahaan pemegang konsesi HPH diwajibkan memenuhi ketentuan sistem Tebang Pilih Tanaman Indonesia (TPTI).
c. Pemegang HPH dikenakan iuran Dana Jaminan Reboisasi yang akan dipergunakan unruk mengutankan kembali areal bekas tebagan dan mempertahankan kondisi hutan sesuai keadaan semula.
d. Memberikan dorongan kepada kalangan swasta agar berpartisipasi dalam pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang di maksudkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri.
e. Melarang penebangan hutan secara sembarangan.
f. Memperketat penjagaan hutan dengan mempersiapkan polisi hutan, melindungi hutan dari pencurian kayu, dan penebangan liar.

Usaha pelestariannya

Usaha Pelestarian Hutan
(Cara lain untuk melestarikan hutan) 
 
Keberadaan hutan
sangat penting. Hutan
merupakan tempat hidup berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Hutan juga merupakan penyeimbang alam
dan paru-paru dunia. Saat ini
jumlah hutan di dunia semakin
berkurang. Manusia
terus mengambil sumber daya
yang ada dalam hutan. Bila hal ini dibiarkan terus maka hutan
di dunai akan habis. Apa yang
akan terjadi bila hutan habis?
Bumi akan semakin panas dan
tidak akan seimbang lagi.
Manusia pun juga tidak bisa mendapatkan kayu dan lainnya
lagi untuk kebutuhannya. Untuk
itu menjaga hutan agar tetap
lestari harus dilakukan.
Pemerintah telah melakukan
berbagai upaya untuk menjaga kelestarian hutan.
Beberapa kawasan hutan
ditetapkan sebagai
kawasan hutan lindung, cagar
alam dan suaka margasatwa.
Jika hutan sudah ditetapkan menjadi hutan lindung, pohonnya
tidak boleh ditebang. Cara lain
untuk melestarikan hutan adalah
sebagai berikut:
a. Tebang pilih Tebang pilih dilakukan dengan
memilih tanaman yang akan
ditebang. Dipilih yang sudah tua.
Penebangannya juga harus
diberi jarak. Tidak satu lokasi
ditebang semua.
b. Tebang tanam Tebang tanam artinya setelah
dilakukan penebangan pohon di
hutan selalu diiringi dengan
penanaman pohon baru. Dengan
demikian kelestarian hutan
tetap terjaga.
c. Mencegah penebangan liar Penebangan liar sering dikenal
dengan istilah illegal logging.
Saat ini kasus penebangan liar
semakin parah. Hutan-hutan di
negara kita semakin
menyempit. Untuk itu pengawasan harus dilakukan
secara ketat. Pelaku penebangan
liar juga harus dihukum karena
telah merugikan negara.
d. Melakukan penghijauan Penghijauan atau reboisasi
merupakan upaya penanaman
kembali hutan yang sudah
gundul. Reboisasi sangat penting
untuk mencegah kerusakan
hutan dan bencana banjir dan tanah longsor.

Pentingnya Melestarikan Terumbu Karang

Pentingnya Melestarikan Terumbu Karang


Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae. Terumbu karang termasuk dalam jenis filumCnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia, yang keduanya dibedakan secara asal-usul, Morfologi dan Fisiologi.

Terumbu karang merupakan struktur hidup yang terbesar dan tertua di dunia. Untuk sampai ke kondisi yang sekarang, terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun. Tergantung dari jenis, dan kondisi perairannya, terumbu karang umumnya hanya tumbuh beberapa mm saja per tahunnya. Yang ada di perairan Indonesia saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam. Terdapat ribuan spesies yang hidup di kawasan terumbu karang. Namun hanya sebagian yang menghasilkan kalsium karbonat pembentuk terumbu. Organisme pembentuk terumbu yang terpenting adalah hewan karang.
Karang adalah bentukan hewan kecil yang hidup dalam semacam cawan yang terbentuk dari kalsium karbonat yang biasa disebut polip karang. Jutaan polip-polip ini membentuk struktur dasar dari terumbu karang. Untuk dapat bertumbuh dan berkembang biak secara baik, terumbu karang membutuhkan kondisi lingkungan hidup yang optimal, yaitu pada suhu hangat sekitar di atas 20oC. Terumbu karang juga memilih hidup pada lingkungan perairan yang jernih dan tidak berpolusi. Hal ini dapat berpengaruh pada penetrasi cahaya oleh terumbu karang.

Terumbu karang di Indonesia memberikan keuntungan pendapatan sebesar US$1,6 milyar/tahun. Nilai keseluruhan pelayanan dan sumber dayanya sendiri diperkirakan mencapai setidaknya US$ 61,9 milyar/tahun.

Terumbu karang mengandung berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi maupun ekonomi.
Terumbu karang merupakan salah satu komponen utama sumber daya pesisir dan laut, disamping hutan bakau atau hutan mangrove dan padang lamun. Terumbu karang di dunia diperkirakan mencapai 284,300 km2. Terumbu karang dan ekosistem lain yang terkait, seperti padang lamun, rumput laut dan mangove adalah ekosistem laut terkaya di dunia. Wilayah Indonesia mempunyai sekitar 18% terumbu karang dunia, dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia (lebih dari 18% terumbu karang dunia, serta lebih dari 2500 jenis ikan, 590 jenis karang batu, 2500 jenis Moluska, dan 1500 jenis udang-udangan).

Manfaat dari terumbu karang yang dapat dimanfaatkan oleh manusia adalah :
-          Pelindung ekosistem pantai
Terumbu karang akan menahan dan memecah energi gelombang sehingga mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan di sekitarnya.

-          Rumah bagi banyak jenis mahluk hidup di laut
Terumbu karang bagaikan oase di padang pasir untuk lautan. Karenanya banyak hewan dan tanaman yang berkumpul di sini untuk mencari makan, memijah, membesarkan anaknya, dan berlindung. Bagi manusia, ini artinya terumbu karng mempunyai potensial perikanan yang sangat besar, baik untuk sumber makanan maupun mata pencaharian mereka. Diperkirakan, terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahunnya. Sekitar 500 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang, termasuk didalamnya 30 juta yang bergantung secara total  pada terumbu karang sebagai penhidupan.
 
-          Sumber obat-obatan
Pada terumbu karang banyak terdapat bahan-bahan kimia yang diperkirakan bisa menjadi obat bagi manusia. Saat ini banyak penelitian mengenai bahan-bahan kimia tersebut untuk dipergunakan untuk mengobati berbagai manusia.
-          Objek wisata
Terumbu karang yang bagus akan menarik minat wisatawan sehingga meyediakan alternatif pendapatan bagi masyarakat sekitar. Diperkirakan sekitra 20 juta penyelam , menyelam dan menikmati terumbu karang per tahun.
-          Daerah Penelitian
Penelitian akan menghasilkan informasi penting dan akurat sebagai dasar pengelolaan yang lebih baik. Selain itu, masih banyak jenis ikan dan organisme laut serta zat-zat yang terdapat di kawasan terumbu karang yang belum pernah diketahui manusia sehingga perlu penelitian yang lebih intensif untuk mengetahui ‘misteri’ laut tersebut.
-          Mempunyai nilai spiritual
Bagi banyak masyarakat, laut adalah daerah spiritual yang sangat penting, Laut yang terjaga karena terumbu karang yang baik tentunya mendukung kekayaan spiritual ini.
  
Sayangnya, karena ketidakpedulian masyarakat akan pentingnya terumbu karang bagi kehidupan manusia, sekitar 30 persen terumbu karang di lautan Indonesia mengalami kerusakan. Tidak hanya di Indonesia, terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang paling terancam rusak di dunia. Perkiraan terakhir menunjukkan bahwa 10 persen dari terumbu karang dunia telah mengalami degradasi atau kerusakan.
Beberapa faktor rusaknya terumbu karang di Indonesia disebabkan karena aktivitas manusia, di antaranya adalah:
1.      Terumbu karang yang hidup di dasar laut merupakan sebuah pemandangan yang cukup indah. Banyak wisatawan melakukan penyelaman hanya untuk melihatnya.
Sayangnya, tidak sedikit dari mereka menyentuh bahkan membawa pulang terumbu karang tersebut. Padahal, satu sentuhan saja dapat membunuh terumbu karang.

2.      Membuang sampah ke laut dan pantai yang dapat mencemari air laut.

3.      Mungkin tidak banyak yang sadar, penggunaan pupuk dan pestisida buatan pada lahan pertanian turut merusak terumbu karang di lautan. Karena meskipun jarak pertanian dan bibir pantai sangat jauh, residu kimia dari pupuk dan pestisida buatan pada akhirnya akan terbuang ke laut melalui air hujan yang jatuh di lahan pertanian.

4.      Boros menggunakan air, karena semakin banyak air yang digunakan semakin banyak pula limbah air yang dihasilkan dan akhirnya mengalir ke laut. Limbah air tersebut biasanya sudah mengandung bahan kimia.

5.      Terumbu karang merupakan tujuan wisata yang sangat diminati. Kapal akan lalu lintas di perairan. Membuang jangkar pada pesisir pantai secara tidak sengaja akan merusak terumbu karang yang berada di bawahnya.

6.      Penambangan pasir atau bebatuan di laut dan pembangunan pemukiman di pesisir turut merusak kehidupan terumbu karang. Limbah dan polusi dari aktifitas masyarakat di pesisir secara tidak langsung berimbas pada kehidupan terumbu karang. Selain itu, sangat banyak yang pengambilan karang untuk bahan bangunan dan hiasan akuarium.

7.      Masih banyak yang menangkap ikan di laut dengan menggunakan bom dan racun sianida. Ini sangat mematikan terumbu karang.

8.      Selain karena kegiatan manusia, kerusakan terumbu karang juga berasal dari sesama mahkluk hidup di laut. Siput drupella salah satu predator bagi terumbu karang.
Kondisi terumbu karang
     
     Laporan Reef at Risk (2002) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan status terumbu karang yang paling terancam. Selama 50 tahun terakhir, proporsi penurunan kondisi terumbu karang Indonesia telah meningkat dari 10% menjadi 50%. Lebih lanjut, hasil survey P2O LIPI (2006) menyebutkan bahwa hanya 5,23% terumbu karang di Indonesia yang berada di dalam kondisi yang sangat baik.
     Laporan status terumbu karang dunia yang dikeluarkan Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN) menyebutkan bahwa dalam selama 2004 hingga 2008 luasan area terumbu karang semakin menurun. Dalam periode 2004 hingga 2008, 19% luasan terumbu karang dunia telah hilang, 15% terancam hilang 10-20 tahun kedepan dan 20% luasan terancam hilang 20-40 tahun mendatang. Di Indonesia sendiri 34% berada dalam kondisi sangat buruk 42% agak baik sedang hanya 21% dalam kondisi sehat dan 3 % sangat sehat.

Ancaman Terhadap Terumbu Karang

     Ancaman utama yang tercatat adalah: pembangunan daerah pesisir, polusi laut, sedimentasi dan pencemaran dari darat, overfishing (penangkapan sumberdaya berlebih),destruktif fishing (penangkapan ikan dengan cara merusak), dan pemutihan karang ( coral bleaching ) akibat pemanasan global.

     Dalam beberapa tahun terakhir tekanan terhadap terumbu karang semakin bervariasi dan juga semakin meningkat secara kuantitas maupun kualitas. Kejadian gempa bumi yang melanda lautan Indonesia pada 2004 juga mengakibatkan kerusakan pada terumbu namun tidak dapat dibandingkan dengan kerusakan yang disebabkan oleh manusia. Dampak langsung dari perubahan iklim juga semakin banyak terjadi pada banyak terumbu karang. Dari analisis diperkirakan pada 2015, sekitar 50% populasi dunia hidup di sepanjang pesisir, sebuah bahaya yang sangat besar terhadap masa depan terumbu karang. Peningkatan kebutuhan pangan, komersialisasi aktifitas perikanan, dan krisis ekonomi global akan berujung pada penangkapan berlebih dan penurunan stok perikanan terutama di negara-negara miskin.

      Untuk mengatasi tantangan ini, kita semua perlu bekerja bersama. Dan terlibat dalam konservasi bisa dimulai dari hal yang sangat mudah, dan tidak njelimet. Mulai dari hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan sendiri, bergabung dengan gerakan-gerakan sukarela, atau dengan terlibat langsung di kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan konservasi

      Banyak juga sebenarnya inisiatif dan upaya-upaya yang cukup komprehensif untuk konservasi, yang sudah dilakukan banyak pihak yang bisa menginspirasi kita semua.
      Tapi intinya, kita harus berkerja sama untuk terumbu karang dan masa depan yang lebih baik.

Apa yang harus kita lakukan untuk melindungi terumbu karang ?
Berikut, tips sederhana untuk bisa membantu mengkonservasi terumbu karang dengan sederhana:
  • Terapkan prinsip 3 R (reduce-reuse-recycle) dan hemat energi. Terumbu karang adalah ekosistem yang sangat peka terhadap perubahan iklim. Kenaikan suhu sedikit saja dapat memicu pemutihan karang (coral bleaching). Mass coral bleaching dapat diikuti oleh kematian massal terumbu karang, seperti yang terjadi di hampir seluruh kawasan tropis 97-98, di Australia, 2002, dan di Karibia, 2006. Kejadian coral bleaching terbaru tahun 2010 melanda banyak sekali lokasi di Indonesia (laporan kejadian coral bleaching 2010) Jadi apapun yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak global warming, akan sangat membantu terumbu karang.
  • Buang sampah pada tempatnya. Hewan laut sering terkait pada sampah-sampah sehingga mengganggu gerakannya. Sampah plastik yang transparan banyak dibuktikan termakan oleh penyu karena tampak seperti ubur-ubur. Sampah plastik ini akan mengganggu pencernaanya. Dibanyak lokasi terumbu juga dijumpai karang dan biota laut lainnya yang bersifat bentik, sessile (tidak dapat berpindah) yang mati akibat tertutup lembaran-lembaran plastik. Ingat,plastik tidak hancur dalam satu malam saja!
  • Apabila Anda berlibur, pilih dan pastikan operator/agen/tour Anda menerapkan prinsip ramah lingkungan.
  • Bergabung dengan jejaring informasi , milist-milist lingkungan, berbagi ilmu, informasi, pendapat, dan saling berdiskusi, ajak orang lain untuk terlibat, membangun trend dan gerakan, GAYA HIDUP yang ramah lingkungan.
  • Bergabung dengan gerakan-gerakan sukarelawan, atau terlibat aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Ada berbagai kegiatan yang bisa rekan-rekan ikuti, seperti jaringan sukarelawan survei terumbu karang (JKRI), trip-trip penelitian, reboisasi, magang di lembaga pelestarian lingkungan dan lain-lainnya (volunteer Reef Check).